Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik dari kalangan salaf maupun khalaf setelah meneliti dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang Tauhid mereka menyimpulkan bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ Wa Ash Shifat.
Dibawah ini Beberapa Pernyataan Ulama Salaf Tentang Pembagian Tauhid
1. Al-Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321 H).
Dalam salah satu karya monumentalnya, Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi menegaskan:
“Kita katakan tentang tauhidullah dalam keadaan meyakini dengan taufiq Allah, bahwa sesungguhnya Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya, tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya, tidak ada ilah selain Dia.”
Penjelasan tentang pernyataan Al-Imam Ath-Thahawi rahimahullah:
“Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya” meliputi tiga jenis tauhid sekaligus, karena Allah Esa dalam Rububiyyah-Nya, dalam Uluhiyyah, dan dalam Al-Asma wa Ash-Shifat -Nya.
“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya” ini adalah Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat
“Tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya“, ini adalah Tauhid Ar-Rububiyyah.
“Tidak ada ilah selain Dia” ini adalah Tauhid Al-Uluhiyyah.
2. Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah (wafat tahun 387 H) dalam karya besarnya yang berjudu l-Ibanatul Kubra, beliau mengatakan:
“Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:
Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.
Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya.
Ketiga: Meyakini bahwa Dia bersifat dengan sifat-sifat yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.”

Penjelasan Tentang Makna Tiga Macam Tauhid tersebut
1. Tauhid Ar-Rububiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Rabb. Makna Rabb adalah Dzat yang Maha Menciptakan, yang Maha Memiliki dan Menguasai, serta Maha Mengatur seluruh ciptaan-Nya. Ayat-ayat yang menunjukkan tauhid Ar-Rububiyyah sangat banyak, di antaranya (artinya):
“Sesungguhnya Rabb kalian hanyalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia beristiwa` di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hak mencipta dan memerintah hanyalah milik Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [Al-A’raf: 54]
Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui Tauhid Rububiyyah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla (artinya):
“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” [Al-’Ankabut: 61]
Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Yang Maha Menciptakan, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rizki. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 6/294)

Contoh-contoh Penyimpangan Dalam Tauhid Rububiyyah
Penyimpangan dalam tauhid rububiyyah yaitu dengan meyakini adanya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini selain Allah Azza wa Jalla dalam hal yang hanya dimampui oleh Allah Azza wa Jalla.
Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini.
Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini.
Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain.
Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya.

2. Tauhid Al-Uluhiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak diibadahi dengan penuh ketundukan, pengagungan, dan kecintaan. Dinamakan juga dengan Tauhidul ‘Ibadah atau Tauhidul ‘Ubudiyyah, karena hamba wajib memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ayat-ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid jenis ini sangat banyak, diantaranya:
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah.” [Muhammad: 19]
Juga firman Allah Azza wa Jalla:
“Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” [An-Nisa`: 36]
Rabbul ‘Alamin adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak dan pantas untuk diibadahi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, karena Dia adalah Rabb. Termasuk juga Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum musyrikin arab, yang mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb satu-satunya, untuk mereka beribadah hanya kepada-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian.” [Al-Baqarah: 21]
Contoh-contoh Penyimpangan-penyimpangan dalam tauhid uluhiyyah.
Penyimpangan dalam tauhid jenis ini yaitu dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla seperti berdoa kepada kuburan atau ahli kubur, meminta pertolongan kepada jin, meminta barokah kepada orang tertentu, menyandarkan nasibnya (bertawakkal) kepada benda tertentu, seperti batu, jimat, cincin, keris, dan semacamnya. Karena do’a dan tawakkal termasuk ibadah, maka harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. (Mereka mengakui Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan mereka, namun mereka masih menyembah, beribadah atau meminta pertolongan kepada makhluk-makhluk dan benda-benda lain, red)

3. Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki nama-nama yang indah (al-asma`ul husna) dan sifat-sifat yang mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla beritakan dalam Al-Qur`an, atau sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah r dalam hadits-haditsnya yang shahih. Sekaligus meyakini dan beriman bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah Azza wa Jalla.
Di antara sekian banyak ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid ini, firman Allah Azza wa Jalla:
“Hanya milik Allah al-asma`ul husna, maka berdo’alah kalian kepada-Nya dengan menyebutnya (al-asma`ul husna) dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (mengimani) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raf: 180]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11]
Contoh-contoh Penyimpangan dalam tauhid Al-Asma’ wa Ash Shifat:
– Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an atau dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih.
– Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfiman (artinya):
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11].
– Menyelewengkan atau menta’wil makna Al-Asma’ul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.
– Menentukan cara dari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yang bermuara pada penyerupaan dengan makhluk-Nya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Pengertian Tauhid
Tauhid (Arab :توحيد) dilihat dari segi Etimologis yaitu berarti ”Keesaan Allah”, mentauhidkan berarti mengakui keesaan Allah; mengesakan Allah atau mengiktikadkan bahwa Allah SWT itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tauhid diambil kata : Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti tidak ada Tuhan melainkan Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT sendiri didalam surat Al-baqarah:163 yang artinya :
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Adapun pengertian tauhid menurut para ulama ternama:
1. DR. Abdul Aziz, tauhid adalah mempercayai bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa, dan pengatur Alam Semesta
2. Prof. Dr. M. Yusuf Musa, tauhid adalah keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada satu pun yang menyamai-Nya dalam Zat, Sifat atau perbuatan-perbuatan-Nya
3. Shalih Fauzan bin Abdullah al Fauzan, tauhid adalah mengesakan Allah SWT dari semua makhluk-Nya dengan penuh penghayatan, dan keikhlasan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan selain kepada-Nya, serta membenarkan nama-nama-Nya yang Mulia (asma’ul husna), dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, dan menafikan sifat kurang dan cela dari-Nya
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan sifat-Nya. Namun, tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu, menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir Nabi Muhammad SAW.

2.2 Pembagian Tauhid
Tauhid dibagi menjadi 3 macam, yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat.
1. Tauhid Rububiyah
Yang dimaksud dengan tauhid rububiyah (keesaan zat Allah) adalah bahwa Allah Esa dalam Zat-Nya. Allah adalah wujud yang tidak bergantung pada apa dan siapa pun dalam bentuk apapun. Dalam bahasa Al-Qur’an, Allah adalah Ghani (absolute). Segala sesuatu bergantung pada-Nya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Allah tidak membutuhkan segala sesuatu. Allah berfirman:

Hai manusia, kamulah yang mebutuhkan Allah. Dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15)

Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Alloh dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi Alloh.
Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Alloh,

“Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89).

2. Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah saja yang berhak dipuja dan dipuji. Memuja dan memuji selain Allah serta sikap ingin dipuji maupun dipuja, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi (dalam hati) adalah perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah dalam suratnya,
“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”. (Al-Fatihah, 1:5)
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Maksudnya adalah kita mengesakan Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy.
Kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

3. Tauhid Asma Wa Sifat
Tauhid Asma wa sifat adalah mengiktikadkan atau meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan, keperkasaan, dan keindahan. Namun dalam sifat-sifat Nya tak ada segi yang benar benar terpisah dari Nya. Allah SWT, telah menunjukkan hal ini dalam firman Nya:
“Tak ada sesuatu pun yang seperti Dia”. (Asy-Syuraa, 42:11)
“Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.” (Al-Hasyr: 24)
Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna)

2.3 Hakikat dan Kedudukan Tauhid.
Hakikat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa semua perkara berasal dari Allah SWT, dan pandangan ini membuatnya tidak menoleh kepada selainNya SWT tanpa sebab atau perantara. Seseorang melihat yang baik dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya dan semisalnya, semuanya berasal dari Nya SWT. Seseorang menyembahNya dengan ibadah yang mengesakanNya dengan ibadah itu dan tidak menyembah kepada yang lain.
Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk mengerti hakekat tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan Alloh. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pengesaan Allah terbagi tiga, yaitu mengesakan Allah dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah Nya dan Asma wa sifat Nya.
Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan Tauhid Uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan sebagainya.

Tauhid Adalah Tujuan Penciptaan Manusia, Alloh berfirman,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Alloh dalam segala macam bentuk ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, seorang sahabat dan ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh saja. Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Alloh,

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian.” (Al Anbiya: 16-17).

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun: 115)

Selain itu, tauhid juga adalah tujuan diutusnya beberapa rasul ke muka bumi, dalam hal ini Allah berfirman,
“Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh, dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36).

Makna dari ayat ini adalah bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam diutus oleh Alloh untuk mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak memepersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah “Sudahkah kita memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam untuk beribadah hanya kepada Alloh semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh terhadap seruan Rosululloh ini?”

Selain itu tauhid merupakan perintah Alloh yang paling utama dan pertama, Alloh berfirman,
“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa: 36).

Dalam ayat ini Alloh menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia, namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya kepada Alloh semata.

2.4 Kesempurnaan Tauhid dan Balasan untuk Ahli Tauhid

Tauhid tidak sempurna kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah SWT semata, tiada sekutu bagi-Nya dan menjauhi thaghut, seperti firman Allah SWT :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”(QS. An-Nahl 36)
Berikut adalah dalil-dalil Al Qur’an Tentang Keutamaan & Keagungan Tauhid,
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS At Taubah: 31)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS Az Zumar: 2-3)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al Bayinah: 5)

Dari semua dalil-dalil Al-qur’an di atas, maka jelas sekali bahwa konsep tauhid merupakan landasan paling fundamnental dalam kehidupan seorang muslim yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan ajaran-ajaran Islam lainnya.
Sedangkan Thaghut adalah setiap perkara yang hamba melewati batas dengannya berupa sesembahan seperti berhala, atau yang diikuti seperti peramal dan para ulama jahat, atau yang ditaati seperti para pemimpin atau pemuka masyarakat yang ingkar kepada Allah SWT.
Thaghut itu sangat banyak dan intinya ada lima:
1. Iblis (semoga Allah SWT melindungi kita darinya)
2. Siapa yang disembah sedangkan dia ridha
3. Siapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya
4. Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib
5. Siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah SWT.

Balasan untuk Ahli Tauhid :
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 25)
Dari Jabir r.a, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang bisa dipastikan?’ Beliau menjawab, ‘Siapa yang meninggal dunia dan keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah SWT niscaya dia masuk surga dan siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT, niscaya dia masuk neraka.” HR. Muslim.
“Barangsiapa yang bersyahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surge itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dari ayat ayat diatas, sudah dijanjikan dengan Allah SWT melalui surat dan hadisnya bahwa surga balasannya bagi orang orang yang beriman, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.

2.5 Hal yang Merusak Sikap Tauhid dan Penerapan Tauhid dalam Kehidupan

a. Hal yang merusak sikap tauhid
Sikap tauhid merupakan sikap mental hati yang kurang stabil akan menyebabkan sikap ini mudah berubah-ubah. Adapun hal-hal yang dapat mengurangi sikap tauhid, yaitu:
1. Penyakit riya
Kelemahan ini pun disinyalir oleh Allah sendiri didalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia. Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya proses terjadinya manusia (membuatnya) tak stabil. Bila mendapatkan kegagalan lekas berputus asa. Bila mendapatkan kemenangan cepat menepuk dada”. (Al-Ma’aarij: 19-21)
2. Penyakit ananiah (egoism)
Kemungkinan kedua bagi mereka yang belum stabil sikap pribadinya, selain sikap riya ialah manusia menempuh jalan pintas. Rasa tidak pasti tadi diatasinya dengan mementingkan diri sendiri. Namun sifat ini tidak akan tumbuh didalam pribadi yang mau beribadah ihsan dan khusyu.
3. Penyakit takut dan bimbang
Rasa takut ini biasanya timbul terhadap perkara yang akan datang yang belum terjadi. Adapun cara mengatasi rasa takut ini ialah dengan tawakal’alallah artinya mewakilkan perkara yang kita takuti itu kepada Allah SWT, maka Allah akan memberikan pemecahan masalah tersebut.
4. Penyakit Zhalim
Zhalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya.
5. Penyakit hasad atau dengki
Hasad tumbuh dihati seseorang apabila ia tidak senang kepada keberhasilan orang lain. Sikap ini biasanya didahului oleh sikap yang menganggap diri paling hebat dan paling berhak mendapatkan segala yang terbaik, sehingga jika melihat ada orang lain yang kebetulan lebih beruntung, ia merasa tersaingi.

b. Penerapan tauhid dalam kehidupan :
Contoh penerapan tauhid dalam kehidupan sehari hari adalah dengan selalu mentaati perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, seperti beribadah, puasa, nadzar, berdoa hanya kepada Allah, ibadah apapun yg dilakukan semata mata diniatkan hanya karna Allah, tidak berlebih-lebihan dalam mencintai sesuatu. Tawakal dan bersabar dalam menghadapi musibah.

c. Pengaruh Tauhid terhadap kehidupan seorang muslim:
Tauhid adalah akar dari keimanan seorang muslim. Dengan tauhid yang kuat, maka seorang muslim akan mampu menjalankan proses penghambaannya kepada Allah tanpa merasa berat dan terpaksa, karena hanya satu tujuan mereka hidup yaitu keinginan mereka untuk bertemu dengan tuhannya Allah SWT.
Implementasi penghambaan mutlak kepada Allah SWT tersebut terwujud dalam berbagai aspek kehidupan seorang muslim, mulai hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya, serta hubungan manusia dengan alam. Ketiga hubungan tersebut akan terwujud secara selaras dan harmonis, karena memang itulah perintah Allah. Dengan mempunyai aqidah yang kuat, maka seluruh rintangan hidup dapat dilaluinya dengan baik dan ringan.
Di era modern ini, dengan berbagai tantangan dan pengaruh global, seorang muslim harus mempunyai tauhid yang kuat. Hal itu disebabkan tantangan dan pengaruh global yang dating banyak memuat unsur-unsur negative yang anti-tauhid. Manakala seorang muslim dihadapkan pada kesenangan dunia sebagai muatan dunia kapitalis, maka manusia membutuhkan benteng untuk mempertahankan diri dari arus negative globalisasi tersebut.

Tauhid yang Benar akan Tumbuhkan Kepekaan Sosial

Arafah, NU Online
Gerakan rohani yang seimbang dan terpadu berdasarkan tauhid dan hidayah Allah akan menumbuhkan rasa kemanusiaan dan kepekaan sosial.

Tauhid dan ibadah yang benar haruslah menumbuhkan kemaslahatan sosial antar sesama. Dari sinilah bisa dipahami hakekat Islam yang rahmatan lil alamin, kata KH. A. Hasyim Muzadi, wakil amirul haj Indonesia pada khutbah Wukuf di Arafah Tahun, 9 Dzulhijjah 1433 H, Kamis (25/10) di tenda misi haji Indonesia, Arafah.

Ia mengatakan, penataan tauhid ritual dan sosial yang dibangun oleh agama secara permanen dan abadi akan terus menghadapi gempuran-gempuran setan, yang bisa berbentuk jin dan manusia. Maka manusia harus terus menerus berlindung kepada Allah.

Sebab, katanya, tipu daya setan jauh lebih besar dan berat dibanding kemampuan manusia untuk mengatasinya sendiri. Daya tahan orang terhadap gempuran gangguan itu ditentukan oleh tingkat kedekata umatnya kepada Allah Swt. Hablun minallah (ibadah) dan hablun minannas (interaksi sosial) sebagai cerminan dari tauhid ibadah dan perilaku sosial akan membentuk karakter Islami yang spesifik.

Setiap manusia secara alamiah telah diperlengkapi oleh Allah instrumen-instrumen kemanusian yang dapat mengangkat hakat dan martabat manusia itu. Namun, potensi karakter tersebut belumlah sempurna sebelum ada sentuhan tauhid dan ibadah serta norma sosial Islam.

Hal ini disebabkan karena manusia tak hanya hidup di sini (alam dunia). Namun juga akan hidup dalam kehidupan selanjutnya yakni hidup dalam alam barzah dan alam akhirat. Maka tauhid dan takwa kepada Allah yang akan melestarikan amal itu sampai di alam akhirat tidak hanya terputus manfaatnya di alam dunia saja.

Pada kesempatan itu ia memaparkan bahwa seiring dengan proses internalisasi karakter Islami, manusia mempunyai tugas sebagai khalifah di bumi yang menyangkut dua aspek besar yakni aspek pengelolaan alam (bumi) dan kepemimpinan sosial.

Dalam aspek sumberdaya alam Allah menyerahkannya kepada manusia jadi sumberdaya alam diserahkan kepada sumberdaya manusia dan bukan sumberdaya manusia yang diserahkan kepada sumberdaya alam.

Dari posisi manusia dan alam (bumi) seperti tertera di dalam Al Quran, maka baik buruknya sumber daya alam ditentukan oleh cara pengelolaan manusia.

Apabila pengelolaannya benar maka akan terjadi berkah kemanfaatan bumi kepada manusia. Dan, apabila sebaliknya maka yang akan terjadi adalah kerusakan bumi itu. Kerusakan bumi pada gilirannya akan meumukul balik manusia yang merusaknya dengan kerugian-kerugian pada kehidupan.

Dalam Al Quran, menurut KH Hasyim Muzadi, kerusakan dan goncangan di bumi dapat dibedakan dalam beberapa jenis: Pertama: kerusakan yang timbul karena ulah manusia misalnya kerusakan lingkungan alam/cuaca.

Kedua, goncangan alam yang semata-mata hanya Allah yang bisa menggerakannya karena di luar kemampuan tangan manusia misalnya tsunami, gunung meletus, gempa dan semacamnya. Ketiga, goncangan alam yang dikehendaki Allah guna mengingatkan umat Nya atas kekuasaan Allah yang tiada terbatas dan atau mengingatkan perilaku hamba-Nya yang keliru.

Selanjutnya, Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa serta ditempatkannya di bagian belahan dunia masing-masing. Logikanya bahwa lingkungan alam utamanya digunakan untuk kelompok, suku bangsa dan bangsa-bangsa yang menempatinya. Sehingga rezeki yang ada di dalam kawasan sumber daya natural seharusnyalah menjadi rezeki bangsa dan suku bangsa yang menempatinya.

Hal ini tidak berarti agama mengajarkan eksklusifisme (pengasingan) masing-masing bangsa karena dengan tegas Al Quran memerintahkan ta’aruf (saling mengenal dan menghargai serta memenuhi kebutuhan antar bangsa) namun pergaulan antar bangsa itu haruslah dalam posisi ta’aruf kesejajaran bukan dalam eksploitasi kehidupan dan penghidupan.

Di sinilah bangsa-bangsa termasuk bangsa Indonesia seharusnya mensyukuri nikmat pemberian Allah berupa kawasan alam itu.

Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta), dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). Sehingga, manusia harus tunduk pada penciptanya. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah, sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus.
Akan tetapi, konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris.
Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan, pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan, tidak lebih tidak kurang, dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. Seperti yang saya katakan tadi, pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam tauhid. Maka menurut penulis, salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun, artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan, bukan dukun, bukan pula peramal.Karena jika kita tidak berpikiran demikian, maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan.
Akan tetapi, hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini, terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi, entah Mama laurent, Ki Bodo atau yang lainnya.
Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja, jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga, yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan, maka dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban, tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi.
Dan lagi-lagi, nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka, menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya, memanusiakan anak-anak didik mereka. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini, dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru, ada yang merangkap pengusaha, wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru, mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka, mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”, menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya).
Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan; janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan, ketika kita mengingkari perintahnya, meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. Artinya, tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya, baik ibadah spiritual maupun sosial.
Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa, mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka, akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya, mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya, mereka tidak menghiraukan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja, tanpa implikasi sosial yang berarti.
Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain, hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada, kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat.
Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari, maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. Maka sama dengan hal ini, jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial, maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”.
Tapi, lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang, termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur—dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka, agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka, krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai.
Seharusnya, dengan Tauhid Sosial tersebut, realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul, dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa, tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan, sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih.

Qurban dan Misi Penegakkan Tauhid Sosial
Persoalan Qurban tidak semata hanya persoalan menyembelih hewan pada waktu Idul Qurban saja. Akan tetapi ada makna yang bisa kita refleksikan yang berkaitan dengan nilai-nilai vertikal hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan horizontal manusia dengan manusia (Hablum Minannas).

Jika kita kaji lebih lanjut, penyembelihan hewan Qurban merupakan aktifitas ibadah sebagai bentuk taqarrub (baca: mendekatkan diri untuk mencari ridha Allah). Kesediaan seseorang untuk berqurban merupakan bukti dari keimanan sebagai hamba kepada Tuhannya. Karena seseorang yang beriman harus mau dan bersedia melakukan pengorbanan apa saja sebagai wujud kecintaannya kepada Allah dan menjalin hubungan baik dengan sesama makhluk-Nya (baca: manusia).

Hal yang paling utama dari makna dan cara pandang kita dalam memahami nilai yang terkandung dalam ibadah Qurban adalah bahwa kita harus berusaha mengalahkan sifat egoistis mengejar kepentingan kita sendiri. Sifat egosentrisme, egoisme yang berfikir seolah-olah rizki dan segala keberhasilan serta kesuksesan semata-mata merupakan hasil dari keringatnya sendiri dan menganggap bahwa hal itu terlepas dari peran Tuhan Sang Maha Pemberi.

Jadi, ada benang merah dari persoalan ibadah qurban dan misi penegakkan tauhid sosial. Karena tauhid sosial merupakan wujud ajaran Islam yang mengedepankan sisi-sisi keadilan yang nampaknya mulai terkikis di masa sekarang.

Tauhid Sosial dan Nilai Keadilan

Seorang tokoh reformis yang dimiliki oleh bangsa ini yakni Profesor Amien Rais pernah memunculkan konsep tauhid sosial sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan. Ia memandang bahwa benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Karena Islam itu merupakan religion of justice, maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi truble maker bagi kemapanan yang tidak adil. Lebih lanjut lagi, Ia mempersoalkan tentang fenomena pengejewantahan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupan seseorang yang terkadang juga dilakukan oleh orang Islam itu sendiri. Serta, ketidakadilan yang terlihat jelas di masyarakat dengan adanya jurang kesenjangan hidup antara si kaya dan si miskin yang masih banyak kita lihat di daerah perkotaan dan sekitarnya.

Fenomena ini jika kita lihat secara makro, merupakan imbas dari sistem yang melahirkan kebijakan yang mengesampingkan nilai tauhid sosial demi keuntungan segelintir golongan. Lebih luas lagi, jika kita kaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang merangkak naik dan selalu di agung-agungkan, namun ternyata tidak memberikan dampak pemerataan. Jurang pembatas antara si kaya dan si miskin kian melebar.
Oleh karenanya, misi yang hendak dibangun dalam penegakkan tauhid sosial adalah pemerataan sosial ekonomi. Hendaknya si kaya dapat melakukan proses pemerataan sosial ekonomi keseluruh masyarakat. Dan menjadi hak dari si miskin untuk mengambil bagiannya dari si kaya. Inilah yang menjadi konsep tauhid sosial dengan mengedepankan nilai keadilan masyarakat sekaligus memperoleh ridha Tuhan.

Lantas, bagaimana dengan ibadah qurban yang merupakan ‘secuil’ nikmat bagi kaum papa yang Ia peroleh setahun sekali?. Apakah cukup hanya dengan satu kantong daging untuk mengobati derita hidup sepanjang tahun?.

Simbol Keberpihakan dan Pembebasan

Di awal, penulis sudah mencoba mengintegrasikan nilai vertikal dan horizontal dalam aktifitas ibadah Qurban. Artinya adalah, ibadah qurban dengan jalan menegakkan misi tauhid sosial akan menggiring masyarakat menuju masyarakat humanis yang mengedepankan nilai-nilai humanistik. Serta mampu merobohkan dinding sifat individualistik yang sudah menjadi trend terlebih pada masyarakat urban.

Humanisme yang dibangun dengan disandarkan kecintaan kepada Tuhan di wujudkan dengan berqurban. Qurban menjadi simbol keberpihakan yang diharapkan akan menjadi wujud kesholehan sosial yang bersifat permanent. Karena sesungguhnya ketika aktifitas ibadah hanya pada kisaran ritual yang bersifat simbol-simbol, tidak akan bisa menghantarkan kita pada hal yang substantif.

Dengan demikian, perlu penekanan pada nilai, terlebih jika aktifitas ibadah itu melibatkan dua pihak yakni Tuhan dan Manusia. Kepada Tuhan tentunya sebagai wujud penghambaan manusia kepada sang khalik. Dan kepada manusia sebagai bentuk pengaktualisasian serta menanamkan nilai-nilai universalitas tauhid.

Tauhid memiliki dimensi aktualisasi yang bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras (baca: tempat) kehidupan kolektif dan sistem sosial.

Peletakkan nilai tauhid dalam dimensi sistem sosial pada aktifitas ibadah qurban akan bermakna pembebasan. Pembebasan dari ketidakadilan akibat dari sebuah sistem yang mengesampingkan prinsip kebersamaan dan pemerataan.

Oleh karena itu, seorang Mudlahhi (baca: orang yang berqurban) harus mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung dari ibadah qurban. Makna yang jika disimpulkan dapat di ambil dua garis besar, yakni makna hubungan vertikal (manusia dengan Tuhan) dan makna hubungan horizontal (manusia dengan manusia).

Dengan menanamkan dua nilai tersebut, maka ibadah qurban tentu tidak hanya berhenti pada ritual penyembelihan binatang ternak saja. Akan tetapi mampu menyembelih sifat kebinatangan individualistik yang ada pada diri seseorang sehingga dapat menumbuhkan kesadaran individu akan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama. Semoga. (**)

Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu, Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariat (51):56). Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. (Ahmad Tib, 2003:137). Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. (Hasan, 1994:27). Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah, adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan, seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah.
Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran, mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan, dan reformasi sosial. Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya, khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah, Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. (Abdullahi ahmed, 2004:21). Tauhid sebagai ilmu, baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun, Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. (Yusran Asmuni, 2003:03) .Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid, namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri, tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam.
Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya, juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka, dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. (Muhammad Abduh, 1979 : 36). Musa Asy’arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada, berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja, yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk, jenis dan bidang kehidupan. (Asy’arie. 2002 : 181). Dari dua pandangan ini, ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja, haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim.
Dalam pandangan Islam, Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya, tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud, melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya
Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa, selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin, adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki, 2003:20). Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik, karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah, melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain.
Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi, Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, dalam suatu sistem, karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan, bukan hanya kepada pengakuan lesan, pikiran dan hati atau kalbu, tetapi juga tindakan dan aktualisasi, yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. . (Asy’arie. 2002 : 182). Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh, Musa Asyari, dan Hasan Hanafi, dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat Allah, dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit.

Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah, walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. Dengan kata lain, kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Padahal, sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam.
Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa, orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97).
Dalam konteks ini, orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah, antara lain Tauhid Sosial. Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif, beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an, yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Secara substasial, gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama, iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. Kedua, iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan.(Ade Usman, 2006. http:// my.opra.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated), di bawah prinsip-prinsip tauhid. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid.
Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif, dikotomik, dan juga sinkretik. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Islam berprinsip pada tauhid, lebih dari segalanya. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya, kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan, bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’. Tugas ini dibebankan pada rasul, pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan, yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam perspektif yang berbeda, cendekiawan muslim, Kuntowojoyo, menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut. (Kuntowijoyo, 1991 : 197). Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman, dan kemudian beramal. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya, disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin, pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman, ‘percaya kepada yang gaib’, kemudian mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Sementara dalam formulasi lain, ada juga trilogi iman-ilmu-amal. Dengan memperhatikan ini, penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal, pada aksi. Artinya, tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia.
Manusia memiliki dua kekuatan. Pertama, Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. Dua, Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. (Syulthut, 1994 : 49). Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya, tauhid i’tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. (Qordhawi,1996:33). Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan, maka keduanya harus dijalankan secara seimbang.
AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi kemasyarakatan, maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. (AM. Fatwa, 2001:51). Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual, maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. Dr. Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial.
Prof. Dr. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat, bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial, realitas sosial, secara konkrit. ( Rais, 1998: 108) Dengan demikian, Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin, rahmat untuk alam semesta, termasuk untuk kemanusiaan. Dengan melihat penjelasan diatas, Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid, kemudian dimensi epistemik, lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial.

Konon katanya Nabi Nuh Alaihissalam adalah Rasul pertama yang mendakwahkan tauhid pada kaumnya. Tugas mulia ini selalu diwariskan dari Nabi Nuh sampai ke Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam. Pada artikel ini akan dibahas mengenai tauhid. Bagi para pembaca, jangan kaget dulu ! Jangan bilang,”saya sudah tau kok, saya kan udah muslim,”! Nah, apalagi yang ngomong gini,”Waduh, tauhid lagi, tauhid lagi…dah bosen lagi…politik dong….”

Nah, masalah tauhid ini bukan perkara yang sembarangan. Kasih contoh aja Bani Israil yang dulu sering diturunkan Nabi dan Rasul kepada mereka, tujuannya apa sih ? Ya, untuk membikin mereka paham tauhid. Kalau memang tauhid gak penting, buat apa Allah repot – repot mengutus banyak Nabi dan Rasul kepada mereka. Nah…, sudah taukan tentang pentingnya tauhid…, ayo kita teruskan membaca tulisan ini !

Makna Tauhid

Tauhid secara istilah adalah beriman dengan wujud Allah dan meng – Esakan – Nya dalam hal rububiyah ( perbuatan ) dan uluhiyah ( ibadah ) dan beriman dengan semua nama – nama dan sifat – sifat – Nya.1

Pembagian Tauhid

Asy Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan2 hafidzahullah menyatakan ( dalam kitab beliau3 ),”Dan dibagilah ( tauhid ) menjadi tiga melalui hasil penelitian ( para ulama ) dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam, dan ini adalah hasil penelitian dari mahdzab Ahlusunnah Wal Jamaah. Maka barangsiapa yang menambahkannya menjadi empat atau lima, hal tersebut adalah tambahan – tambahan belaka. Dan sesungguhnya para ulama telah membagi tauhid ini menjadi tiga pembagian dari Kitab ( Al Qur`an ) dan Sunnah. Semua ayat – ayat dari Al Qur`an dan As Sunnah tentang masalah aqidah, tidaklah lepas dari pembagian tauhid yang tiga ini.

1. Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dan meng – Esakan ( Allah ) dalam semua perbuatan – Nya, seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.

2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah

Uluhiyah bermakna ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan ( motif ) rasa cinta, rasa takut, dan rasa harap kepada – Nya, mentaati perintah – Nya dan menjauhi semua larangan – Nya.

3. Tauhid Asma wa Ash Shifat adalah menetapkan semua ( nama dan sifat ) yang Allah telah tetapkan bagi diri – Nya sendiri atau nama dan sifat yang Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam tetapkan / kabarkan.

(sekian perkataan Asy Syaikh Dr.Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah )

Dalil – Dalil Pembagian Tauhid yang Tiga

Sebagai penguat dari perkataan Asy Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah, kami akan mengutip sebuah contoh pendalilan tentang pembagian tauhid ini. Pendalilan tersebut berasal dari tulisan Asy Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin. Berikut kutipan tulisan beliau :

”Dan Allah Ta`ala telah menyebutkan dalam Kitab – Nya yang agung mengenai pembagian tauhid dalam banyak ayat. Dan salah satu firman – Nya ( mengenai pembagian tauhid yang tiga ) adalah dalam surat Al Fatihah.

1. Alhamdulillahirobbil a`lamiin

Pada lafadz lillah mengandung tauhid uluhiyah, dan lafadz robbil a`lamiin mengandung tauhid rububiyah

2. Ar rohmaanirrahiim

( Pada ayat ini ) mengandung tauhid asma wa ash shifat

3. Maalikiyaumiddiin

( Pada ayat ini ) mengandung tauhid rububiyah

4. Iyyakana`budu waiyyaka nasta`iin

( Pada ayat ini ) mengandung tauhid uluhiyah

Dan ada banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang pembagian tauhid ini dan penjelasannya pun cukup jelas. Selain itu, hal ini juga telah disebutkan oleh para ulama terdahulu dari umat islam dan semua madzab yang empat, seperti Hanifiyyah ( pengikut Imam Abu Hanifah rahimahullahu ), Malikiyyah ( pengikut Imam Malik rahimahullahu ), Syafi`iyyah ( pengikut Imam Syafi`i rahimahullahu ), dan Hanabilah ( pengikut Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ).”4

Koreksi Bagi yang Mengingkari Pembagian Tauhid

Sebagian pembaca mungkin ada yang menyatakan bahwa pembagian tauhid yang tiga ini adalah perkara baru yang diada – adakan dalam agama islam, karena tidak ada satu petunjukpun dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam mengenai pembagian tauhid tersebut. Bukankah agama ini telah sempurna dan semua syariat telah Nabi Muhammad jelaskan melalui hadist – hadistnya ? Hal ini juga pernah disampaikan kepada Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullahu. Berikut ini kami tampilkan cuplikan jawaban syaikh atas pernyataan tersebut :

”Dan seandainya metode ( pembagian tauhid ) yang telah kami tempuh ini adalah suatu metode yang aneh / ganjil, maka kami juga mengatakan bahwa sesungguhnya pembagian syarat – syarat sholat, rukun – rukunnya, kewajiban – kewajibannya, dan rukun – rukun haji, kewajiban – kewajibannya, larangan – larangannya, dan apa – apa yang menyebabkan menjadi wajibnya haji, semuanya adalah perkara baru yang diada – adakan dalam agama. Dan kami tidaklah mengatakan seperti itu ( ibadah kepada Allah dengan perkara baru ). Dan bahkan kami menyatakan bahwa ini adalah suatu pendekatan ilmu agama menuju ke suatu pengamalan ( ini hanyalah wasilah / sarana dan bukan tujuan ). Maka benarlah tanpa keraguan sedikitpun bahwa pembagian tauhid menjadi tiga serta disebutkan pula syarat – syaratnya, rukun – rukunnya, kewajiban – kewajibannya, perusak – perusaknya dalam ibadah, semuanya adalah boleh ( hukumnya ). Dan sesungguhnya ini termasuk dari perkara sarana dan pendekatan, dan membatasi sesuatu dalam rangka menuntut ilmu syar`i. Dan kami menyebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam sering menyebutkan pembatasan sesuatu dengan pembagian – pembagian, misalkan : Tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya ( lihat di Shohih Muslim Bab Zakat ) ; Ada tiga orang yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah ( lihat di Shohih Muslim Bab Iman ).”5

Sekian dulu artikel ini dan Insya Allah kami akan melanjutkan mengenai pembahasan dari macam – macam tauhid tersebut. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mengerti tauhid dan mau mengamalkan ilmu tauhid tersebut. Amin

Penulis: Rizki Mula Saputra (Murid senior M. Abduh Tuasikal)

Artikel http://www.remajaislam.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.