Qurban dan Misi Penegakkan Tauhid Sosial
Persoalan Qurban tidak semata hanya persoalan menyembelih hewan pada waktu Idul Qurban saja. Akan tetapi ada makna yang bisa kita refleksikan yang berkaitan dengan nilai-nilai vertikal hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan horizontal manusia dengan manusia (Hablum Minannas).

Jika kita kaji lebih lanjut, penyembelihan hewan Qurban merupakan aktifitas ibadah sebagai bentuk taqarrub (baca: mendekatkan diri untuk mencari ridha Allah). Kesediaan seseorang untuk berqurban merupakan bukti dari keimanan sebagai hamba kepada Tuhannya. Karena seseorang yang beriman harus mau dan bersedia melakukan pengorbanan apa saja sebagai wujud kecintaannya kepada Allah dan menjalin hubungan baik dengan sesama makhluk-Nya (baca: manusia).

Hal yang paling utama dari makna dan cara pandang kita dalam memahami nilai yang terkandung dalam ibadah Qurban adalah bahwa kita harus berusaha mengalahkan sifat egoistis mengejar kepentingan kita sendiri. Sifat egosentrisme, egoisme yang berfikir seolah-olah rizki dan segala keberhasilan serta kesuksesan semata-mata merupakan hasil dari keringatnya sendiri dan menganggap bahwa hal itu terlepas dari peran Tuhan Sang Maha Pemberi.

Jadi, ada benang merah dari persoalan ibadah qurban dan misi penegakkan tauhid sosial. Karena tauhid sosial merupakan wujud ajaran Islam yang mengedepankan sisi-sisi keadilan yang nampaknya mulai terkikis di masa sekarang.

Tauhid Sosial dan Nilai Keadilan

Seorang tokoh reformis yang dimiliki oleh bangsa ini yakni Profesor Amien Rais pernah memunculkan konsep tauhid sosial sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan. Ia memandang bahwa benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Karena Islam itu merupakan religion of justice, maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi truble maker bagi kemapanan yang tidak adil. Lebih lanjut lagi, Ia mempersoalkan tentang fenomena pengejewantahan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupan seseorang yang terkadang juga dilakukan oleh orang Islam itu sendiri. Serta, ketidakadilan yang terlihat jelas di masyarakat dengan adanya jurang kesenjangan hidup antara si kaya dan si miskin yang masih banyak kita lihat di daerah perkotaan dan sekitarnya.

Fenomena ini jika kita lihat secara makro, merupakan imbas dari sistem yang melahirkan kebijakan yang mengesampingkan nilai tauhid sosial demi keuntungan segelintir golongan. Lebih luas lagi, jika kita kaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang merangkak naik dan selalu di agung-agungkan, namun ternyata tidak memberikan dampak pemerataan. Jurang pembatas antara si kaya dan si miskin kian melebar.
Oleh karenanya, misi yang hendak dibangun dalam penegakkan tauhid sosial adalah pemerataan sosial ekonomi. Hendaknya si kaya dapat melakukan proses pemerataan sosial ekonomi keseluruh masyarakat. Dan menjadi hak dari si miskin untuk mengambil bagiannya dari si kaya. Inilah yang menjadi konsep tauhid sosial dengan mengedepankan nilai keadilan masyarakat sekaligus memperoleh ridha Tuhan.

Lantas, bagaimana dengan ibadah qurban yang merupakan ‘secuil’ nikmat bagi kaum papa yang Ia peroleh setahun sekali?. Apakah cukup hanya dengan satu kantong daging untuk mengobati derita hidup sepanjang tahun?.

Simbol Keberpihakan dan Pembebasan

Di awal, penulis sudah mencoba mengintegrasikan nilai vertikal dan horizontal dalam aktifitas ibadah Qurban. Artinya adalah, ibadah qurban dengan jalan menegakkan misi tauhid sosial akan menggiring masyarakat menuju masyarakat humanis yang mengedepankan nilai-nilai humanistik. Serta mampu merobohkan dinding sifat individualistik yang sudah menjadi trend terlebih pada masyarakat urban.

Humanisme yang dibangun dengan disandarkan kecintaan kepada Tuhan di wujudkan dengan berqurban. Qurban menjadi simbol keberpihakan yang diharapkan akan menjadi wujud kesholehan sosial yang bersifat permanent. Karena sesungguhnya ketika aktifitas ibadah hanya pada kisaran ritual yang bersifat simbol-simbol, tidak akan bisa menghantarkan kita pada hal yang substantif.

Dengan demikian, perlu penekanan pada nilai, terlebih jika aktifitas ibadah itu melibatkan dua pihak yakni Tuhan dan Manusia. Kepada Tuhan tentunya sebagai wujud penghambaan manusia kepada sang khalik. Dan kepada manusia sebagai bentuk pengaktualisasian serta menanamkan nilai-nilai universalitas tauhid.

Tauhid memiliki dimensi aktualisasi yang bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras (baca: tempat) kehidupan kolektif dan sistem sosial.

Peletakkan nilai tauhid dalam dimensi sistem sosial pada aktifitas ibadah qurban akan bermakna pembebasan. Pembebasan dari ketidakadilan akibat dari sebuah sistem yang mengesampingkan prinsip kebersamaan dan pemerataan.

Oleh karena itu, seorang Mudlahhi (baca: orang yang berqurban) harus mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung dari ibadah qurban. Makna yang jika disimpulkan dapat di ambil dua garis besar, yakni makna hubungan vertikal (manusia dengan Tuhan) dan makna hubungan horizontal (manusia dengan manusia).

Dengan menanamkan dua nilai tersebut, maka ibadah qurban tentu tidak hanya berhenti pada ritual penyembelihan binatang ternak saja. Akan tetapi mampu menyembelih sifat kebinatangan individualistik yang ada pada diri seseorang sehingga dapat menumbuhkan kesadaran individu akan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama. Semoga. (**)